Halaman

    Social Items



Kau tahu, sesungguhnya pandangan itu melahirkan kecintaan, maka dimulai dari keterkaitan hati dengan yang dipandang yang kemudian menjadi kuat sehingga akhirnya menjadi cinta yang menyebabkan hati senantiasa mengingatnya dan tidak mau melepaskan.

Cinta kemudian menjadi begitu kuat sehingga menjadi begitu berlebihan yang kemudian menguat dan menjadi mabuk cinta, yaitu cinta dari lubuk hati yang paling dalam. kemudian bertambah kuat dan akhirnya menjadi budak, yaitu hamba sahaya sehingga hati menjadi budaknya orang yang tidak pantas menjadi tuannya dan ini semua adalah buah dari kejahatan pandangan.


Ketika itu hati menjadi tawanan setelah sebelumnya sebagai raja, dan menjadi terpenjara setelah sebelumnya bebas dari pandangan, dan dia mengeluhkan pandangannya, sedangkan pandangannya mengatakan " Saya adalah panutanmu dan utusanmu dan engkau telah mengutusku" maka diuji dengan kebutaan. Sehingga tidaklah melihat kebenaran sebagai kebenaran, tidak pula bisa melihat kebathilan sebagai kebathilan, dan ini adalah perkara yang dirasakan oleh jiwa masing-masing orang. Karena hati seperti cermin dan nafsu seperti kotoran.

Cermin akan menggambarkan hakikat gambar sebagai mana mestinya, tetapi apabila cermin itu kotor maka tidak akan menggambarkan sebagaimana mestinya.

Ketika hati adalah cermin dan nafsu adalah kotoran

Let's Hijrah ~


Kau tahu, sesungguhnya pandangan itu melahirkan kecintaan, maka dimulai dari keterkaitan hati dengan yang dipandang yang kemudian menjadi kuat sehingga akhirnya menjadi cinta yang menyebabkan hati senantiasa mengingatnya dan tidak mau melepaskan.

Cinta kemudian menjadi begitu kuat sehingga menjadi begitu berlebihan yang kemudian menguat dan menjadi mabuk cinta, yaitu cinta dari lubuk hati yang paling dalam. kemudian bertambah kuat dan akhirnya menjadi budak, yaitu hamba sahaya sehingga hati menjadi budaknya orang yang tidak pantas menjadi tuannya dan ini semua adalah buah dari kejahatan pandangan.


Ketika itu hati menjadi tawanan setelah sebelumnya sebagai raja, dan menjadi terpenjara setelah sebelumnya bebas dari pandangan, dan dia mengeluhkan pandangannya, sedangkan pandangannya mengatakan " Saya adalah panutanmu dan utusanmu dan engkau telah mengutusku" maka diuji dengan kebutaan. Sehingga tidaklah melihat kebenaran sebagai kebenaran, tidak pula bisa melihat kebathilan sebagai kebathilan, dan ini adalah perkara yang dirasakan oleh jiwa masing-masing orang. Karena hati seperti cermin dan nafsu seperti kotoran.

Cermin akan menggambarkan hakikat gambar sebagai mana mestinya, tetapi apabila cermin itu kotor maka tidak akan menggambarkan sebagaimana mestinya.

No comments